Amerika Rekayasa Ba’asyir

Mantan Penerjemah Deplu AS Akui Amerika Rekayasa Ba’asyir
14 January 2005

Ketua Umum PP Muhammadiyah Syafii Ma’arif dan mantan penerjemah Deplu AS Frederick Burk memberi kesaksian. Dua saksi penting dalam penangkapan Ustadz Abubakar Ba’asyir, Ketua Umum PP Muhammadiyah Syafii Ma’arif dan mantan penerjemah Deplu AS Frederick Burk mengatakan, penangkapan pengasuh Pondok Pesantren Al Mukmin Ngruki itu adalah rekayasa Amerika Serikat (AS).

Setelah sidang ke-12 kasus Abubakar Ba’asyir yang digelar di gedung Auditorium Departemen Pertanian, Ragunan, Jakarta, Kamis (13/1), dua dari enam saksi yang dihadirkan Tim Pembela Abubakar Ba’asyir memberi kesaksian tentang adanya campur tangan AS tersebut.

Di hadapan Majelis Hakim dan Jaksa Penuntut Umum, saksi pertama Syafii Ma’arif yang juga Ketua Umum PP Muhammadiyah mengungkapkan bahwa pada tanggal 28 Maret 2004 mantan Duta Besar AS untuk Indonesia, Ralph Boyce menemui dirinya di Kantor PP Muhammadiyah, Menteng, Jakarta Pusat.

Diungkapkan Ma’arif, bahwa tujuan Boyce datang ke kantor PP Muhammadiyah awalnya untuk menyerahkan foto dirinya dengan Presiden George W Bush saat bertemu di Bali bulan Oktober 2003 lalu.

Namun dalam pembicaraannya, ternyata Boyce juga meminta dirinya melakukan lobi kepada pejabat-pejabat hukum di Indonesia seperti Kepala Polri dan Ketua Mahkamah Agung (MA) agar tidak membebaskan Abubakar Ba’asyir dari tahanan hingga usai pemilihan umum April 2004. Alasannya, Ba’asyir merupakan orang yang berbahaya dan termasuk kelompok Jamaah Islamiyah (JI) yang selama ini melakukan berbagai aksi terorisme.

“Dengan tegas Saya katakan kepada Boyce bahwa Saya tidak mau melakukan itu. Saya juga katakan bahwa MA telah mengeluarkan keputusan untuk membebaskan Ba’asyir.”ujar Ma’arif.

Dalam persidangan tersebut, Ma’arif mengungkapkan bahwa secara pemikiran dirinya memiliki banyak perbedaan dengan Ba’asyir. Menurutnya, Ba’asyir memang radikal tetapi hal itu sebatas wacana saja. "Yang saya tahu, Ba’asyir tidak radikal dalam tindakan," katanya.

Permintaan AS

Sementara itu saksi kedua yakni mantan penerjemah Deplu AS Frederick Burk mengakui bahwa utusan khusus Presiden George W Bush pernah meminta agar Ba'asyir ditangkap dan diserahkan ke AS.

Frederick Burk yang bersaksi dengan penguasaan bahasa Indonesia yang sangat baik dan lancar, mengaku sudah mendengar nama Ba'asyir sejak bulan September tahun 2002 silam. Burk menceritakan awal-awal kejadian dimana akhirnya ia diikut sertakan dalam pertemuan dengan Presiden Megawati.

"Ketika itu saya mendapat telepon dari Ibu Karen Berg, anggota National Security Council (Dewan keamanan AS). Dia menelepon saya agar bersedia ikut berkunjung ke Indonesia guna mengikuti sebuah rapat rahasia yang diadakan di rumah pribadi Presiden Megawati,"tutur Burk.

Karena sudah merupakan tugasnya sebagai penerjemah, Burk mengatakan dirinya langsung memenuhi ajakan tersebut. Dalam pertemuan di rumah Presiden Megawati tersebut, lanjut Burk, dihadiri oleh Ralph L Boyce (Dubes AS untuk Indonesia), Karen Berg (Dewan keamanan AS) dan seorang utusan Bush yang tidak ia ketahui namanya. “Sedangkan dari pihak Indonesia hanya Megawati seorang diri," katanya.

Burk juga mengaku pertemuan ini bukan pertemuan pertamakalinya dengan Megawati. "Sebelumnya saya pernah bertemu Megawati pada 18 September 2001 saat Megawati berkunjung ke Washington bertemu Bush," tambahnya.

Dalam pertemuan itu, kata Burk, utusan khusus Presiden Bush menjelaskan kepada Presiden Megawati tentang kesaksian Umar Al Farouq yang mengatakan bahwa kelompok JI yang dikepalai Abubakar Ba’asyir pernah melakukan percobaan pembunuhan terhadap Megawati sebanyak dua kali. “Selain itu disebutkan pula bahwa Ba’asyir merupakan dalang aksi pengeboman di Indonesia yang terjadi pada malam Natal,"papar Burk.

Atas alasan-alasan tersebut, lanjut Burk, utusan khusus Bush itu meminta Presiden Megawati untuk menyerahkan Ba'asyir kepada AS. Namun, Megawati menolak dengan alasan hal itu tidak mudah dilakukan. “Ba’asyir itu beda dengan Al Faoruq. Di Indonesia , Ba’asyir itu sangat terkenal dan banyak orang yang tahu tentang dia. Sehingga saya tidak bisa memenuhi permintaan anda,”ujar Burk menirukan jawaban Megawati.

"Ada oknum pejabat di pemerintahan Amerika yang ingin supaya kelihatan bahwa teror itu ganas sekali. Padahal, teror itu sebenarnya tidak begitu banyak, tapi dibesarkan, dibuat semacam momok untuk menakuti-nakuti seluruh umat di dunia ini, supaya mereka mendukung perang," ujar Burk, Kamis di Jakarta.

Warga negara AS yang kini jadi peneliti itu mengaku cukup yakin bahwa ada intervensi pemerintahnya dalam kasus terorisme yang didakwakan pada Amir Majelis Mujahidin Indonesia, sekaligus pimpinan Pondok Pesantren Al Mukmin, Ngruki ini.

Persidangan atas Abubakar Ba’asyir dimulai pada 28 November 2004, dan pada Kamis (13/1) memasuki persidangan yang ke-13. Ba'asyir dituduh sebagai Amir Jamaah Islamiyah (JI), ‘hantu’ yang selalu dimunculkan setiap ada aksi bom. Hingga kini, semua tuduhan terhadap Ketua Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) itu belum pernah terbukti.

No comments:

Post a Comment

Post a Comment